"Uh, bagaimana mungkin kau bisa membaca puisi tanpa menghayatinya? Apakah kau yakin mengikutinya?" Tanya seseorang yang masuk dengan menghela nafas.
Sontak. Aku yang mendengarnya pun menoleh ke belakang.
"Hy! Kyra ^0^!" Sapaku.
"Kau tak berubah sama sekali ya, Wet!" Jawab Kyra Stefiani, anak dari teman ibuku.
"Hah? Ewet? Gak salah denger tuh?" Tanyaku.
"Hahaha.. Ya nggak lah. Kamu kan emang masih cerEWET!" Ejeknya.
"Hahahaha.."
"Tapi, apa kau serius untuk mengikutinya?" Tanyanya.
"Ya iyalah.. Aku sudah serius banget. Karena, ini saatnya aku menggapai impianku!" Kataku yakin.
"Oh begitu! Ya sudah!" Jawabnya.
"Impianmu ya? Bukan keluargamu?" Pikir Kyra.
"Oh iya. Aku dan Bunda akan menginap disini selama seminggu loh!" Kabar Kyra yang secara tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah.
"Benarkah.. Ini, benar-benar kabar gembira loh! Tapi, kenapa tiba-tiba? Apa kau ingin membuatku kalah?" Tanyaku karena aku tahu bahwa jika dia ada disini maka aku pasti akan bermain terus dengannya.
"Tenang saja! Aku tidak akan mengganggu latihanmu kok! Apa kau lupa? Didepanmu ada sang pianis terhebat?" Tanya Kyra.
"Terus... Ap hubungannya Pianis dan latihanku?" Tanyaku.
"Hubungannya adalah, saat kau berlatih. Kau akan berlatih dengan suara musik daaan mulai sekarang, kau akan berlatih dengan suara piano! Agar, kau terbiasa!" Jelas Kyra sepanjang rel kereta api.
"Oh gitu!" Jawabku.
"Awas kau ya! Ya udah, kutemani kau membuat puisi!" Katanya.
#BERSAMBUNG#
Pabrik Cerita
Rival or Best Friend - O gitu?/1,78
Rival or Best Friend - Ganjil?/1,0
Aku bersama Kak Rey latihan bersama dengan 3 puisi yang akan dibawakan langsung, dimana antara 1 puisi dengan puisi lain masih berkaitan. Puisi seperti ini, dinamakan Triple Poetry. Dimana, puisi semacam ini sulit untuk dibuat karena seperti mengandung suatu cerita singkat yang mengesankan karena dibawakan dengan indah. Dan puisi yang kugunakan untuk latihan adalah milik Kak Rey sewaktu mengikuti kontes.
Namun.. Tiba-tiba,"Plak!" Ayah datang dengan menampar pipi kanan Kak Rey. Aku yang melihatnya pun hanya bisa diam karena tak tahu apa-apa T_T.
"Maaf, Yah!" Kata Kak Rey sambil menundukkan kepala.
"Bukankah, beberapa tahun yang lalu. Kau sudah janji? Jika, adikmu mengikuti kontes ini maka kau tidak akan membantunya? Dan hanya mendukungnya saja? Apa kau lupa?" Tanya Ayahku yang marah.
Mungkin, masalah ini ada kaitannya dengan kontes itu.
"Maaf" Ujar Kak Rey.
"Rain! Cepat keluar! Kau harus memakai kemampuanmu sendiri!" Marah Ayah kepadaku.
"Baik.." Jawabku, aku pun segera mengambil buku sastra, laptop, dan alat lainnya.
Aku langsung membuka pintu, dan menutupnya dan segera pergi ke taman belakang. Tempat yang cocok untuk latihan.
Saat berlari, aku dengar samar-samar tentang percakapan Ayah dan Kak Rey. Sepertinya, Kak Rey akan mendapatkan hukuman.
Jika saja, aku tak meminta Kak Rey untuk mengajariku. Pasti, ini semua tidak akan terjadi.
Aku segera mencoba membaca puisi yang ada didalam buku sastra. Namun, seperti ada yang ganjil. Entah, apa itu. Hal itu serasa hilang, di hatiku.
"Uh, bagaimana mungkin kau bisa membaca puisi tanpa menghayatinya? Apakah kau yakin mengikutinya?" Tanya seseorang yang masuk dengan menghela nafas.
"Bukankah, beberapa tahun yang lalu. Kau sudah janji? Jika, adikmu mengikuti kontes ini maka kau tidak akan membantunya? Dan hanya mendukungnya saja? Apa kau lupa?" Tanya Ayahku yang marah.
Mungkin, masalah ini ada kaitannya dengan kontes itu.
"Maaf" Ujar Kak Rey.
"Rain! Cepat keluar! Kau harus memakai kemampuanmu sendiri!" Marah Ayah kepadaku.
"Baik.." Jawabku, aku pun segera mengambil buku sastra, laptop, dan alat lainnya.
Aku langsung membuka pintu, dan menutupnya dan segera pergi ke taman belakang. Tempat yang cocok untuk latihan.
Saat berlari, aku dengar samar-samar tentang percakapan Ayah dan Kak Rey. Sepertinya, Kak Rey akan mendapatkan hukuman.
Jika saja, aku tak meminta Kak Rey untuk mengajariku. Pasti, ini semua tidak akan terjadi.
Aku segera mencoba membaca puisi yang ada didalam buku sastra. Namun, seperti ada yang ganjil. Entah, apa itu. Hal itu serasa hilang, di hatiku.
"Uh, bagaimana mungkin kau bisa membaca puisi tanpa menghayatinya? Apakah kau yakin mengikutinya?" Tanya seseorang yang masuk dengan menghela nafas.
#BERSAMBUNG#
Rival or Best Friend? - Prolog/0,0
Bagaimana jika kau dilahirkan dari keluarga terpandang?
Dan, kau dipercaya mempertahankan suatu prestasi yang telah diturunkan dari keluargamu?
Bagaimana jika kau merasa putus asa?
Dikarenakan sesuatu?
Bagaimana jika ada kemungkinan gagal?
Sehingga, kau dapat mengecewakan semua orang?
Dan, bagaimana jika kau bertanding dengan orang yang kamu anggap teman?
Pilih mana?
Kepercayaan atau Hanya Karena Teman?
Rival or Best Friend? - Why?/0,5
Dimana, ada suatu kontes yang selalu dinanti-nanti para deklamator pasti itu Beautiful Poetry Contest. Setiap 2,5 tahun sekali, kontes ini diselenggarakan. Kontes yang khusus untuk para pembaca puisi dengan suara indah dan juga diiringi alunan musik indah, membuat semuanya terpana ketika mendengarnya.
Dan, di tahun 2032 ini. Aku mengikutinya untuk yang pertama kali. Mengikuti suatu ajang kontes yang dapat mengharumkan nama keluargaku lagi.
Lagi? Ya, karena selama ini. Kakakku, Aurey Devia selalu menduduki 3 besar. Dan sekarang, giliranku untuk menunjukkan bahwa aku memang masih memiliki darah Sang Deklamator Legendaris, yang tak lain merupakan ayahku sendiri.
Dan, di tahun 2032 ini. Aku mengikutinya untuk yang pertama kali. Mengikuti suatu ajang kontes yang dapat mengharumkan nama keluargaku lagi.
Lagi? Ya, karena selama ini. Kakakku, Aurey Devia selalu menduduki 3 besar. Dan sekarang, giliranku untuk menunjukkan bahwa aku memang masih memiliki darah Sang Deklamator Legendaris, yang tak lain merupakan ayahku sendiri.
2 Feb 2032
Aku bersama Kak Rey latihan bersama dengan 3 puisi yang akan dibawakan secara langsung, dimana antara 1 puisi dengan puisi lain masih berkaitan. Puisi seperti ini, dinamakan Triple Poetry. Dimana, puisi semacam ini sulit untuk dibuat karena seperti mengandung suatu cerita singkat yang mengesankan karena dibawakan dengan indah. Dan puisi yang kugunakan untuk latihan adalah milik Kak Rey sewaktu mengikuti kontes.
Namun.. Tiba-tiba,
"Plak!"
Ayah datang dengan menampar pipi kanan Kak Rey. Aku yang melihatnya pun hanya bisa diam karena tak tahu apa-apa T_T
#BERSAMBUNG#
Canda Tawa Mereka - 2
"Kak!" Kata Jeni. "Apa, Yen" Tanya Nicel. "Kakak, kalau kita pisah dan gak bisa ketemuan lagi.. "Kata Jeni murung. "Kita tetep sahabat kan?" Tanyanya. "Pasti dong! Memangnya ada apa? Kok, tiba-tiba nanya kaya gitu" Tanya Nicel penasaran.
"Sebenarnya.. Ada orang yang akan mengadopsi kami, tapi kami takut gak bisa ketemu Kakak lagi! Apalagi, Kak Cel itu baik sekali.. Dan, kami juga belum bisa balas budi! Tapi, Kak Cel janji kan, gak bakal nglupain kami?" Tanya Jeni.
"Iya betul itu! Kak Cel harus janji!" Kata Gita."Oh, syukurlah. Ada orang yang mau mengadopsi kalian. Nggak apa apa kok, itu juga demi kebaikan kalian. Oke deh, janji.. " Jawab Nicel lembut.
"Makasih kak!" Ucap Jeni dan Gita. Merekapun bercerita banyak hal karena mereka takut tidak dapat bertemu lagi.
"Udah ya, aku mau pulang dulu. Bye Jen! Inget ya, tetep jadi sahabat!" Kata Nicel sambil melihat jam yang menunjukkan jam 14.05
"Oke, Kak! Bye too" Jawab Jeni dan Gita sambil mengantar Nicel sampai pagar.
Nicel pun membuka pintu dan pergi menuruni tangga.
2 hari kemudian..
"Assalamualaikum.. Kak Cel?" Sapa seorang gadis yang sedang mengetuk pintu rumah Nicel.
"Iya, sebentar" Jawab Nicel dari dalam rumah. Pintu pun terbuka.
"Yeyen... " Teriak Nicel gembira.
"Untung ya, Kak! Ternyata kita dapat bertemu gara-gara tetanggaan!" Kata Jeni sambil duduk.
"Iyaa.. Ternyata, masih bisa ketemuan! Mau minum apa?" Tanya Nicel.
"Jangan repot-repot, cuma bentar kok Kak!" Kata Jeni.
"Kok bentar? Ku kira mau main.. Mana Gita?" Tanya Nicel.
"Gita lagi ada bimbel.. Nggak kok Kak! Sebenarnya, aku kesini buat ngajak Kakak ke toko buku soalnya ingin beli banyak buku untuk anak Panti Asuhan!" Jelas Jeni.
"Oke, aku ambil uang dulu ya. Kita mau naik apa kesana? Kamu kesini naik apa" Tanya Nicel.
"Naik mobil aja, aku kesini diantar Ayah " Jawab Jeni. Setelah Nicel mengambil uang.
Mereka pun pergi menuju toko buku dengan naik mobil yang disopiri Ayah angkat Jeni.
"Ayah, aku dan Kak Nicel aja ya, yang masuk!" Kata Jeni.
"Siap, komandan. Ditunggu di Pondok Ice Cream ya" Jawab ayah Jeni yang terkesan humoris.
Setelah 1 jam membeli buku, Jeni dan Nicel pun keluar toko buku dengan membawa banyak bingkisan dan 1 kotak besar. Mereka pun segera menuju Pondok Ice Cream yang tak jauh dari sana.
"Ayah, setelah ini boleh antar aku ke Panti Asuhan ya?" Kata Jeni saat telah tiba disana."Boleh kok! Dengan Cecel juga?" Tanya Ayah Jeni dan lucunya ia memanggil Nicel dengan sebutan Cecel.
"Iya dong" Kata Nicel. Merekapun memesan Ice Cream dan memakannya sampai tidak ada yang tersisa.
Setelah itu merekapun pergi menuju Panti Asuhan dan untungnya pagar sudah terbuka.
"Permisi, Bu Ike.. Boleh mampir gak?" Tanya Ayah Jeni sambil membawa bingkisan dan kotak besar.
Bu Ikepun menoleh dan membantu membawa bingkisan dan kotak besar itu.
"Boleh dong, kapan aja gapapa kok Pak!" Jawab Bu Ike.
Mereka pun segera membagikan bingkisan dan kotak besar kepada anak Panti Asuhan dan terlihat senyum mereka karena bisa mendaptkan beragam macam buku dan alat tulis disertai mainan bekas yang masih layak digunakan. Dari Panti Asuhan itupun terdengar gelak tawa mereka.
#Tamat#
Langganan:
Komentar (Atom)


