"Rukun?" Isi status facebook Rara.
"Meong.... meong...." Bunyi handphone Rara yang bertanda ia memiliki sms baru.
"Huh siapa sih?" Dengus kesal Rara.
"Dasar Tecna kaya nggak ngerti orang marah!"Kata Rara.
"Ketemuan yuk! Di taman, gerobak es degan! Aku tunggu! Love you, my friend!"Kata Rara membaca isi sms Tecna, teman baik Rara.
Rara langsung mengambil tas kecil berwarna merah polkadot hitam dan memasukkan handphone dan dompetnya. Rara langsung pergi ke taman dengan sepedanya.
Sebelum itu, Rara menyobek kertas buku catatannya.
"Pergi ke taman >_<" Tulisnya di kertas itu dan menaruhnya di meja ruang keluarga.
Rara meggois sepedanya agar ia cepat sampai ke taman karena jarak antara blok rumah A5 dan taman memakan jarak lumayan jauh. Ia ingin cepat cepat merasakan minuman favoritnya, es degan.
"Hy, lama banget sih!" Keluh Tecna.
"Baru 5 menit" Kata Rara.
"Ya itu mah telat!" Keluh Tecna.
"Kamu mah enak! Blok B2! Aku blok A5" Kata Rara kesal.
"Tecna sama aja kaya yang lain!" Kata Rara dalam hati.
"Maaf deh!" Kata Tecna sambil tersenyum dibalas anggukan kepala Rara,
"Minum es degan yuk!" Ajak Rara. Rara langsung memarkirkan sepedanya di samping gerobak Pak Somad, pedagang es degan.
"Nggak bawa uang" Kata Tecna.
"Serius? Terpaksa dengan keikhlasan hati, saya memutuskan mentraktik saudari Tecna!" Kata Rara lebay.
"2rius deh. Makasih!" Kata Tecna lebay.
"Pak Somad, es degan 2 pakai susu coklat ya! Bungkus 1 pakai susu vanilla" Pesan Rara.
"Oke!" Jawab Pak Somad.
"Duduk disini aja Ra!" Kata Tecna. Mereka berdua duduk di kursi dekat meja jajanan pasar.
"Pak, Icha mana?" Kata Tecna menanyakan keberadaan anak Pak Somad.
"Dirumah neng" Jawab Pak Somad sambil melayani pembeli.
"Pak, donatnya 2 dan singkong rebusnya 2 ya dan apa lagi ya? Oh sama keripik sinngkongnya 1! Minta kantung kreseknya!" Kata Rara.
"Ini neng. Es batunya banyak apa nggak?" Tanya Pak Somad sambil memberikan kantung kresek.
"Secukupnya" Jawab Rara.
Tecna terlihat asik bermain handphone.
"Ini pesanannya. Silahkan dinikmati neng. Es degan yang dibungkus ini dengan rasa vanilla" Kata Pak Somad memberikan pesanan Rara.
"Terima kasih!" Kata Rara.
Mereka langsung menyerbu es degan tanpa dikomando. Sesekali mereka berbincang tentang surganya indonesia.
"Dah habis! Berapa semua Pak?" Tanya Rara saat es degan mereka habis.
"Apaan neng?" Tanya Pak Somad.
"Es degan 3, donatnya 2, singkong rebusnya 2 dan 1 kripik singkong!" Jawab Rara.
"29.000 aja" Kata Pak Somad. Rara'pun membayar dengan uang tabungannya di dompet.
"Thanks ya buat traktirannya" Kata Tecna sambil memasukkan handphonenya.
"Yak! Bye... Kamu akan merasakan kehebohanku besok di sekolah!" Kata Rara.
"Kutunggu ya. Dan kulawan dengan jurus angin pendiamku!" Kata Tecna mulai menghayal.
Rara mengambil sepedanya dan pamit ke Tecna dan Pak Somad.
Rara ingin mampir ke warnet sebentar, karena menurutnya ini hari bebas untuknya, UN sudah berlalu.
Saat di perjalanan, handphone Rara berbunyi. Ia pun meminggirkan sepedanya dan melihat handphonenya."Mama ya, ada apa sih?" Gunam Rara, Rara pun mengangkat panggilan dari Mamanya.
"Assalamualaikum.." Salam seseorang yang tak asing baginya.
"Walaikumsalam.. Ada apa Ma?" Tanya Rara.
"Cepetan pulang ya kak! Mama tunggu!" Perintah Mama.
"Iya.." Jawab Rara singkat.
"Tut.." Sambungan pun terputus.
"Nggak jadi ke warnet deh!" Keluh Rara. Rara menaruh handphone di tas kecilnya dan pulang.
Rara menggois sepedanya untuk pulang ke rumahnya yang menurutnya membosankan. Ia memarkirkan sepeda di garasi, samping rumah.
"Assalamualaikum" Kata Rara mengetuk pintu rumahnya. Ia juga memencet bel berkali kali namun tak ada jawaban.
Pintu terbuka, tampak wanita berhijab yang selama ini ia kenali. Mama, itu nama panggilan yang melekat padanya.
"Kamu masih marah dengan mama?" Tanya Mama (Mamanya Rara)
Rara menggelengkan kepalanya dan menundukkan kepalanya karena takut di marahi oleh mamanya yang penyabar.
"Masuk ke kamar Mama. Mama mau menunjukkan sesuatu ke kakak!" Perintah Mama.
Rara'pun masuk kerumah dan mengunci pintu. Rara melanjutkan ke kamar Mamanya yang menurutnya lebih membosankan karena dipenuhi buku-buku tebal.
Mama duduk di sofa, begitu juga dengan Rara. Rara menaruh kantung kresek di meja kamar.
"Ma, ini Sasa" Kata Sasa mengetuk pintu kamar Mama.
"Masuk.." Kata Mama. Sasa masuk ke kamar dan duduk di sebelah Rara.
"Huh.. Ni anak lagi! Anak yang paling dimanja" Kata Rara dalam hati
"Kalian baca buku ini!" Perintah Mama memberi buku tipis berjudul "Rukun Itu Damai".
Tanpa basa-basi lagi Rara & Sasa membaca buku itu bersama. Namun anehnya mereka tidak bertengkar saat membaca buku itu.
Hening..
Selagi Rara dan Sasa membaca, Mama mengambil 1 biji keripik singkong yang kemarin Rara beli di Pak Somad. Mama menaruhnya di meja kamar. Tidak butuh waktu banyak, semut-semut berdatangan.
"Kalian tahu semut?" Tanya Mama sambil memandang semut di meja dekat sofa.
Rara & Sasa mengangguk. Rara & Sasa ikut melihat pasukan semut menyerbu keripik singkong.
"Lihat semut ini.. Mereka rukun! Yang benar saja, kalian tidak malu dengan semut?" Tanya Mama dengan nada menyindir.
"Semut itu banyak namun mereka rukun & selalu berbagi. Kalian hanya 2 orang namun selalu ribut, masalah sepele juga ribut." Sambung Mama.
"Kakak! Kakak sudah besar seharusnya lebih mengalah! Adik juga! Kalau Rara capek, jangan digoda! Kalian harus rukun seperti semut ini!" Nasihat Mama.
"Sebagai hukuman, mulai nanti malam kalian tidur 1 kamar! Sasa bawa benda yang diperlukan dengan pakaian untuk seminggu! Kalian tidur di kamar Rara, jika dalam seminggu kalian akur maka kalian boleh tidur di kamar sendiri-sendiri! Tapi jika masih bertengkar kalian tidur bersama lagi selama 1 minggu! Mengerti?" Kata Mama tegas.
Rara dan Sasa mengangguk dan raut muka mereka seperti kecewa.
"Dek, maafin kakak ya!" Kata Rara mulai bersuara berharap Sasa menjawab.
"Aku.. juga.. minta maaf kak!" Kata Sasa terbata-bata seperti ingin menangis.
"Nah kalau gini kan jadi enak! Rukun itu buat hati orang damai!" Kata Mama mengambil buku yang selesai Rara&Sasa baca. Dan menaruhnya di rak buku.
"Tapi, hukuman tetap berjalan!!" Sambung Mama.
"Sekarang kalian keluar dari kamar Mama, Rara! Bantu adikmu memindahkan barang-barangnya!" Perintah Mama.
Rara dan Sasa keluar dari kamar. Tidak lupa Rara mengambil kantung kreseknya. Mereka bergegas mengambil barang-barang dan merapikan kamar Rara, saat mereka selesai mereka duduk di sofa kamar Rara.
"Dek, kamu mau makan camilan?" Tanya Rara sambil tersenyum.
"Mau.." Jawab Sasa singkat.
"Ini ada donat, singkong rebus dan keripik singkong!" Kata Rara sambil memberi piring yang diatasnya ada 2 donat, 2 singkong rebus dan toples berisi keripik singkong. Rara meminum es degannya yang ada di gelas.
"Kak, minta es degannya! Boleh?" Tanya Sasa polos.
"Boleh nih.." Kata Rara memberikan es degannya.
"Makacih.." Kata Sasa manja. Sasa meminum es degan rasa vanilla dan menaruhnya di meja.
"Prang......"
"Dek, kamu nggak papa kan?" Tanya Rara khawatir dengan Sasa yang menyenggol gelas tadi tanpa disengaja sehingga gelasnya pecah. Untungnya tidak ada isinya.
"Nggak papa kak!" Kata Sasa meskipun lutut kakinya berdarah.
"Kak, ada apa?" Tanya Mama yang masuk ke kamar Rara.
"Ini tadi aku jatuhkan gelas!" Kata Sasa ingin menangis.
"Makanya hati-hati!" Nasihat Mama.
"Mama masih ada kerjaan, Ra kamu urus adik kamu ya! Maaf ya nggak bisa meluangkan waktu untuk kalian!" Kata Mama Rara yang merupakan single parent.
Rara tidak diam saja, ia membersihkan serpihan gelas di karpet. Rara juga mengajak Sasa ke kamar mandi dan membersihkan lututnya dengan air dan sabun, setelah itu mengelap lututnya dengan kain bersih. Tidak lupa Rara juga mengambil obat untuk membuat lukanya menjadi kering.
"Makasih kak!" Kata Sasa menangis.
"Iya peri kecilku.." Kata Rara sambil memeluk adiknya, Sasa. Tanpa diketahui oleh Rara dan Sasa, Mama melihat kejadian itu melalui jendela kamarnya dan tersenyum bahagia karena berhasil mengajari anaknya sesuatu pelajaran baru.
------------------------------------------Rukun Itu Damai-------------------------------------------------
Terima kasih sudah membaca! Tunggu karya selanjutnya!......
Sekali lagi terima kasih...................... @_@

Tidak ada komentar:
Posting Komentar