Apa yang kalian pikirkan saat mendengar suatu kata yaitu Ibu. Ibu, pahlawan kita. Ia yang membimbing kita, mengajari kita. Ibu adalah sosok perempuan super. Ia lebih hebat dari superhero, ia lebih cantik dari putri kerajaan. Hatinya lembut seperti malaikat di surga. Apa yang kalian kagumi dari Ibu? Banyak sekali bukan! Apa yang kalian rasakan saat dibelai oleh Ibu? Pasti senang dan hati kalian merasakan damai. Pada hari minggu...
"Di, Ibu mana?" Tanya Kak Irna, saudara perempuanku.
"Di belakang Kak!" Jawabku yang sedang mengerjakan pekerjaan rumahku.
"Oh, makasih ya!" Kata Kak Irna.
"Tunggu Kak! Nomer 19 apa?" Tanyaku.
"Mana soalnya?" Tanya balik Kak Irna.
"Nih.." Jawabku sambil menyerahkan Buku Kumpulan Latihan Ulangan.
"Yaelah, ini mah jawabannya D. Udah ya, aku mau ke belakang!" Jawab Kak Irna.
"Ibu! Ardi cepetan panggil Bapak, Bapak di kebun!" Teriak Kak Irna dari belakang.
Aku langsung pergi ke kebun untuk menemui Bapak, aku langsung lari meskipun jarak dari rumah ke kebun tidak terlalu jauh.
"Pak, Bapak?" Panggilku.
"Apa di?" Tanya Bapak yang sedang menanam pohon jambu.
"Pak, ayo ke rumah! Cepetan!" Kataku dengan nafas terengah-engah.
"Ayo... Ada apa sih?" Kata Bapak yang pergi duluan ke rumah diikuti oleh aku.
Sesampai dirumah..
"Pak, Ibu.. Ibu pingsan!" Kata Kak Irna di depan pintu rumah.
"Sekarang Ibu mana?" Tanya Bapak khawatir.
"Di kamar tidurnya. Ardi, ikut Kakak buat bubur ayam buat Ibu ya?" Kata Kak Irna.
"Siap Kak!" Kataku pelan.
"Bapak ke kamar dulu ya!" Kata Bapak, Bapak'pun pergi ke kamar tidur untuk melihat kondisi Ibu.
Aku dan Kak Irna pergi ke dapur untuk membuat bubur ayam kesukaan Ibu.
Tidak butuh waktu lama, kami sudah selesai membuat bubur ayam dengan 4 porsi. Kami'pun membawa obat dan segelas air putih tidak lupa dengan bubur ayam.
"Ibu! Ibu tidak apa-apa?" Tanyaku saat melihat Ibu membuka mata.
"Ibu, minum dulu ya!" Kata Kak Irna. Kak Irna memberi segelas air putih ke Ibu.
"Ibu tidak apa-apa kok! Ibu hanya kecapekan!" Kata Ibuku yang masih batuk-batuk.
"Ibu istirahat dulu ya!" Kata Bapak.
"Tapi, tapi Ibu belum masak dan menyeterika pakaian kalian!" Sela Ibu.
"Udahlah Bu, Irna'kan sudah besar dan bisa menyeterika meskipun tidak terlalu rapi! Ibu makan bubur ayam dulu ya! Terus Ibu minum obatnya dan tidur" Jelas Bapak.
"Iya Bu, biar yang membersihkan rumah Ardi saja!" Kataku mantap.
"Maafkan Ibu ya!" Kata Ibu. Bapak'pun menyuapkan bubur ayam dengan sendok. Sesuai pembagian tugas, aku menyapu dan mengepel lantai rumah sedangkan Kak Irna menyeterika pakaian.
"Syukuri apa yang ada.. Hidup adalah anugerah.. Tetap jalani hidup ini.. Melakukan yang terbaik.." Nyanyiku saat mengepel. Kalian pasti tahu lagu apa ini bukan? Yap, D Masiv-Jangan Menyerah.
"Aduh...." Keluh Kak Irna saat terjatuh karena lantainya licin.
"Kakak gimana sih? Udah tau aku ngepel lantai" Kataku cuek dan melanjutkan mengepel lantai.
"Bukannya nolongin malah di cuekkin! Dasar payah!" Kata Kak Irna.
Kami'pun saling perang mulut. Bertengkar....
"Kak, biasanya saat kita bertengkar. Ibu selalu melerai dan memarahi kita ya!" Kataku.
"Iya, sepertinya kita ini bodoh ya! Selalu bergantung dengan Ibu. Fiuh.... " Kata Kak Irna
"Jadi Ibu itu repot juga ya, ngurusin kita, ngurusin rumah tangga. Dan kita juga nggak bisa mandiri.. Kasihan Ibu!" Kataku.
"Iya, betul katamu! Repot jadi Ibu.. Ibu termasuk pahlawan kita!" Jawab Kak Irna.
"Fiuh...." Keluh kami berdua.
"Tidur ah... Ardi kalau udah tidur siang ya!" Perintah Kak Irna. Kak Irna pergi ke kamar tidurnya.
"Iya Kak!" Kataku, aku'pun melanjutkan mengepel lantai.
"Huft capeknya. Selesai juga! Tidur juga deh" Kataku. Aku pergi ke kamar tidur dan memasang alarm.
Aku langsung tidur.. Belum beberapa menit, aku sudah merajut mimpi. 1 jam kemudian..........
"Kring... Kring..." Bunyi alarmku.
"Hoam...... Mau mandi ah..." Kataku sambil mengantuk. Aku langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Karena untuk ke kamar mandi, aku harus melewati kamar Ibu.
Aku menyempatkan diri melihat kondisi Ibu. Aku'pun membuka pintu kamar.
"Ibu," Kataku. Namun, aku tak melihat ada sosok pahlawanku sedang tertidur. Aku hanya melihat tempat tidur yang rapi tanpa ada Ibu. Gelas air putih juga tidak ada di atas rak.
Aku mencari Ibuku dan melupakan tujuan untuk mandi. Semua ruang sudah kulihat terkecuali dapur.
Aku langsung pergi ke dapur, dan berharap Ibu ada disana.
"Ibu!" Kataku melihat Ibu yang sedang memotong wortel.
"Ibu tidak istirahat?" Tanyaku. Aku menghampiri Ibuku yang ada di meja makan.
"Nggak, Ibu sudah sembuh kok! Ibu mau masak dulu buat makan sore" Kata Ibu sambil tersenyum.
"Terima kasih, Ibu!" Peluk Kak Irna tiba-tiba. Ternyata, saat aku berbicara dengan Ibu. Kak Irna sudah ada di belakang Ibu. Kak Irna terlihat ingin menangis.
"Terima kasih ya Ibu! Aku minta maaf!" Kataku sambil ikut memeluk Ibuku tersayang.
"Maafkan aku Ibu! Maaf, aku sering berbuat salah bu" Tangis Kak Irna.
Bapak melihat kami memeluk Ibu dari belakang. Bapak terlihat tersenyum dan ingin menangis juga.
Aku dan Kakak memeluk Ibu erat-erat. Terima kasih, Ibu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar