Ia lebih diam dan terlihat susah didekati. Mama dan Ayah juga bingung akan sifat Zahra yang misterius. Begitu juga sahabatnya, Karin dan Dizel. Pada akhirnya, aku, Karin dan Dizel dan juga Dara mencari tahu apa yang terjadi pada Zahra. Oh iya, Dara adalah sahabatku. Dara sangat hemat bicara. Itu yang membuat kami menjadi sahabat.
Kami berempatpun mulai mencari informasi tentang Zahra.
Sampai suatu hari di sekolah ......
"Zahra .. Sara !!" Sapa Dizel mendekati kami yang baru turun dari mobil.
"Iya Zel !!" Jawabku. Aku langsung melihat Zahra yang hanya tersenyum ke Dizel. Zahra'pun menuju ke kelas 5A, sedangkan aku masuk ke kelas 5B.
"Ada perubahan?" Tanya Dara saat melihatku menaruh tas di bangku.
"Belum!" Jawabku.
"Oh!" Kata Dara. Kami berdua langsung keluar kelas. Dara terlihat berjalan sambil membaca buku novel terbaru.
"Bagaimana jika kita bawa Zahra ke Restaurant Loli?" Tanyaku.
"Ide bagus. Jangan lupa bersama Karin dan Dizel!" Jawab Dara.
"Oke! Nanti akan aku sampaikan. Jam 15.40 ya!" Kataku.
"Iya!" Jawab Dara singkat.
--- O ------- * o * ------- o ---
Akupun berangkat bersama Zahra sampai ke Restaurant Loli. Aku memakai dress panjang hitam dengan polkadot putih ditambah dengan perpaduan jaket lengan panjang berwarna hitam pekat, pita rambut hitam dan jam tangan putih. Perpaduan yang sempurna, aku juga memakai sandal hels yang tidak terlalu tinggi dengan berwarna hitam dihiasi pita mungil berwarna putih diatasnya. Sebenarnya dress dan jaket yang kupakai adalah hadiah dari Bunda saat orang tuaku pergi ke Kota Paris untuk urusan kerja. Tidak hanya ini, aku dan Zahra dibelikan banyak pakaian bermerk dan juga pernak-pernik lainnya.
"Untung kalian datang!" Seruku saat melihat Karin, Dizel dan Dara berada di depan Restaurant Loli. Mereka terlihat cantik.
"Hai!" Sapa Zahra. Zahra terlihat memakai pakaian serba merah dan memakai pita rambut merah.
"Hai juga Zah!" Jawab Karin yang merasakan ada sedikit perubahan pada Zahra.
"Oh iya, kita masuk yuk!" Ajak Dizel. Kita berlima masuk ke Restaurant Loli.
--- O ------- * o * ------- o ---
"Ini daftar menunya dan tolong tulis di kertas ini ya!" Kata seorang pelayan yang menghampiri meja kami.
"Mau apa nih?" Tanya Karin. Karin menulis pesanannya.
"Ice Cream chocho and Lovely Cake!" Kata Dizel.
"Juice Mango dan Special Cake" Kata Zahra.
"Banana Cake aja!" Kata Dara. Aku dan teman-temanku memandang Dara dengan keheranan.
"Nggak papakan?" Tanya Dara saat melihat kami heran.
"Nggak papa kok! Aku chocho Cake, chocho Juice dan juga Ice Cream chocho!" Kataku.
"Banyak banget!" Komentar Karin sambil menulis pesanan.
"Mbak!" Panggil Karin ke pelayan wanita tadi.
"Silahkan menunggu!" Kata pelayan itu setelah mengambil kertas.
"Moga aja nanti pulangnya nggak sampai jam 16.30!" Keluh Dizel.
"Emangnya ada apa?" Tanya Karin.
"Aku diajak nonton pertunjukkan sulap sama Kak Zelga" Jelas Dizel.
"Berarti kamu nanti diundang ya?" Tanya Karin.
"Iya!" Jawab Dizel.
"Itu buku apa sih?" Tanyaku kepada Dara yang sedang membaca buku novel.
"Bukan apa-apa!" Jawab Zahra tergesa-gesa. Mungkin Zahra salah mengerti dan mengira aku menanyakan buku biru yang dibawanya.
"Oh. Dara itu buku apa?" Tanyaku.
"Novel terbaru. Judulnya 'White Or Black'!" Jawab Dara.
"Lagi-lagi novel inggris. Jadi pusing ni pala deh kalau baca tuh novel!" Kataku.
"Hehehehe .. Tapi bahasanya mudah dimengerti kok! Mau pinjam? Aku udah selesai baca dan ceritanya sangat menarik!" Jelas Dara.
"Oke deh. Besok aku kembalikan ya!" Kataku.
"Iya!" Kata Dara sambil memberikan Buku Novel kepadaku, akupun memasukkannya ke tasku.
--- O ------- * o * ------- o ---
"Terima kasih sudah menunggu!" Kata Pelayan Wanita. Pelayan itupun membagikan makanan di atas meja. Pelayan itupun meninggalkan meja.
"Yey .. chocho Party!" Kataku.
"Mari kita nikmati!" Ajak Karin.
"Nona Dara ya?" Tanya seseorang wanita berpakaian rapi yang mendekati meja kami.
"Iya!" Jawab Dara.
"Ternyata benar. Ini adalah anak Bu Ryanti. Mengapa nona datang kesini?" Tanya wanita itu.
"Lagi makan bareng teman. Anda Bu Siska bukan?" Tanya Dara.
"Benar ternyata Anda masih ingat ya! Reza. Jangan biarkan mereka membayar makanan mereka! Karena disini ada Nona Dara anak pemilik Restaurant Loli dan Restaurant Royal!" Perintah Bu Siska.
"Baik Bu!" Jawab pelayan bernama Reza.
"Silahkan dinikmati Nona Dara! Saya tinggal dulu ya" Kata Bu Siska meninggalkan meja kami.
"Titip salam ya buat orang tuamu!" Sambung Bu Siska.
"Baik! Makasih ya Bu!" Jawab Dara.
--- O ------- * o * ------- o ---
"Jadi Restaurant Loli ini juga milik orang tuamu ya?" Tanyaku.
"Ya begitulah. Tapi karena bisnis orang tuaku. Aku jadi tidak diperhatikan!" Keluh Dara.
"Sama sepertiku" Keluh Zahra dalam hati.
"Aku ngerti kok! Aku juga tahu rasanya!" Kata Dizel.
"Kok suasananya tegang ya! Senyum dong!" Seru Karin.
"Betul kata Karin! Kitakan niatnya senang-senang!" Kataku. Entah mengapa, aku merasa Zahra juga sedang merasa sedih. Atau, cuma perasaanku aja.. Semuanya pun kembali seperti biasa. Hanya saja,
"Zahra?" Panggilku. Zahra tetap tidak menanggapi panggilanku.. Diam-diam, aku menyenggol bahu Dara yang ada di sampingku.
Dara yang mengerti tentang kode yang kuberikan pun ikut memperhatikan Zahra.. Semuanya juga bingung dengan Zahra yang termenung, sediam-diamnya Zahra, paling tidak dia tetap akan memberi tanggapan walaupun hanya senyuman.
"Zahra!" Panggil kami semua ke Zahra. Gadis yang dipanggil hanya kaget lalu tersenyum, meskipun kutahu adikku ini memberikan senyuman yang sedikit berbeda.
"Aku ngerti kok! Aku juga tahu rasanya!" Kata Dizel.
"Kok suasananya tegang ya! Senyum dong!" Seru Karin.
"Betul kata Karin! Kitakan niatnya senang-senang!" Kataku. Entah mengapa, aku merasa Zahra juga sedang merasa sedih. Atau, cuma perasaanku aja.. Semuanya pun kembali seperti biasa. Hanya saja,
"Zahra?" Panggilku. Zahra tetap tidak menanggapi panggilanku.. Diam-diam, aku menyenggol bahu Dara yang ada di sampingku.
Dara yang mengerti tentang kode yang kuberikan pun ikut memperhatikan Zahra.. Semuanya juga bingung dengan Zahra yang termenung, sediam-diamnya Zahra, paling tidak dia tetap akan memberi tanggapan walaupun hanya senyuman.
"Zahra!" Panggil kami semua ke Zahra. Gadis yang dipanggil hanya kaget lalu tersenyum, meskipun kutahu adikku ini memberikan senyuman yang sedikit berbeda.
--- O ------- Bersambung ------- o ---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar