"Queen, main yuk!" Kata Dinda, teman baru Queen di desa rumah Nenek.
"Iya, aku minta ijin dulu sama Nenek, takut dicari!" Seru Queen. Queen pun keluar rumah menghampiri Dinda yang ada diteras rumah. Queen sudah keluar dengan pakaian berhijab yang berwarna hijau muda pas untuk suasana Bulan Ramadhan.
"Boleh, tapi nggak boleh sampai sore. Trus nggak boleh main di tempat panas dan main permainan yang membuat capek sama nggak boleh lupa shalatnya dan nggak boleh sampai batal puasanya" Terang Queen tentang syarat main yang diberikan Neneknya.
"Lah dala.. Kok banyak banget aturannya.Trus kita main apa dong?" Tanya Dinda.
"Main apa ya...." Tanya Queen
"Mmmm.. Gimana kalau pergi kerumah Pak Yuyut buat lihat hewannya dan juga minta buah-buahan untuk nanti buka puasa? Bagus kan ideku?" Tanya Dinda.
"Kemarin aja kita baru dari sana! Buah yang aku dapat masih banyak di kulkas!" Kataku.
"Oh kebetulan ada Queen. Queen, kami mau ngajak kamu untuk buat kue hari raya bareng-bareng dan ini tradisi kita, anak-anak desa. Din, kamu mulai tadi dicari tidak ada!" Kata Gerald.
"Emang sekarang tanggal berapa?" Tanya Dinda.
"Tanggal 9 Juli!" Jawab Queen pendek. "Iya, aku mau ikut. Aku mau minta ijin dulu ya sama Nenek!" Sambungnya. Queen langsung masuk rumah.
"Ya Allah, kok bisa ya aku lupa kalau sekarang tanggal 9 Juli. Maapin aku ya, Ger!" Kata Dinda dengan wajah memelas.
"Iya.. iya!" Jawab Gerald.
"Boleh! Tapi aturannya, aku nggak boleh sampai mencicipi rasa adonan meskipun tidak ditelan hukumnya makruh, nggak boleh sampai batal puasa, harus ingat waktu dan harus tetap sholat dan juga nggak boleh pulang sore-sore. Oh iya, aku juga nggak boleh sampai jatuh kalau naik sepeda dan harus hati-hati. Aku juga nggak boleh nyetir sepeda, kamu aja Dinda yang nyetir, aku bonceng kamu!" Jelas Queen.
"Wow, ini lebih banyak. Tapi, sepeda? Sepeda siapa?" Tanya Gerald.
"Iya, sepeda siapa nih. Kamukan punyanya sepeda laki, kalau sepedaku masih diperbaikin" Kata Dinda.
"Hehehe.. Aku disuruh bonceng sepeda laki sama Nenek!" Jawab Queen tertawa.
"O.. Nek Ima itu ada-ada aja ya, banyak aturannya!" Omel Gerald sambil naik sepeda.
"Kan dulu, Nek Ima itu pernah jadi kepala desa disini!" Jawab Dinda sambil mengambil sepedanya Queen.
"Jangan ngebut ya, nanti kalau aku jatuh. Aku nggak boleh keluar rumah buat main sama kalian!"Pinta Queen.
"'Iya, kalau kamu jatuh. Aku yang kena marah!" Kata Dinda.
Merekapun berangkat untuk pergi ke aula balai desa, tempat pembuatan kue khusus anak-anak.
Tapi, ditengah jalan...
"Bruagh............" "ADUH.. SAKIT.."
"Suruh siapa nggak ati-ati.."
Bersambung dulu ya.. Tunggu aja yang berikutnya..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar