Aku bersama Kak Rey latihan bersama dengan 3 puisi yang akan dibawakan langsung, dimana antara 1 puisi dengan puisi lain masih berkaitan. Puisi seperti ini, dinamakan Triple Poetry. Dimana, puisi semacam ini sulit untuk dibuat karena seperti mengandung suatu cerita singkat yang mengesankan karena dibawakan dengan indah. Dan puisi yang kugunakan untuk latihan adalah milik Kak Rey sewaktu mengikuti kontes.
Namun.. Tiba-tiba,"Plak!" Ayah datang dengan menampar pipi kanan Kak Rey. Aku yang melihatnya pun hanya bisa diam karena tak tahu apa-apa T_T.
"Maaf, Yah!" Kata Kak Rey sambil menundukkan kepala.
"Bukankah, beberapa tahun yang lalu. Kau sudah janji? Jika, adikmu mengikuti kontes ini maka kau tidak akan membantunya? Dan hanya mendukungnya saja? Apa kau lupa?" Tanya Ayahku yang marah.
Mungkin, masalah ini ada kaitannya dengan kontes itu.
"Maaf" Ujar Kak Rey.
"Rain! Cepat keluar! Kau harus memakai kemampuanmu sendiri!" Marah Ayah kepadaku.
"Baik.." Jawabku, aku pun segera mengambil buku sastra, laptop, dan alat lainnya.
Aku langsung membuka pintu, dan menutupnya dan segera pergi ke taman belakang. Tempat yang cocok untuk latihan.
Saat berlari, aku dengar samar-samar tentang percakapan Ayah dan Kak Rey. Sepertinya, Kak Rey akan mendapatkan hukuman.
Jika saja, aku tak meminta Kak Rey untuk mengajariku. Pasti, ini semua tidak akan terjadi.
Aku segera mencoba membaca puisi yang ada didalam buku sastra. Namun, seperti ada yang ganjil. Entah, apa itu. Hal itu serasa hilang, di hatiku.
"Uh, bagaimana mungkin kau bisa membaca puisi tanpa menghayatinya? Apakah kau yakin mengikutinya?" Tanya seseorang yang masuk dengan menghela nafas.
"Bukankah, beberapa tahun yang lalu. Kau sudah janji? Jika, adikmu mengikuti kontes ini maka kau tidak akan membantunya? Dan hanya mendukungnya saja? Apa kau lupa?" Tanya Ayahku yang marah.
Mungkin, masalah ini ada kaitannya dengan kontes itu.
"Maaf" Ujar Kak Rey.
"Rain! Cepat keluar! Kau harus memakai kemampuanmu sendiri!" Marah Ayah kepadaku.
"Baik.." Jawabku, aku pun segera mengambil buku sastra, laptop, dan alat lainnya.
Aku langsung membuka pintu, dan menutupnya dan segera pergi ke taman belakang. Tempat yang cocok untuk latihan.
Saat berlari, aku dengar samar-samar tentang percakapan Ayah dan Kak Rey. Sepertinya, Kak Rey akan mendapatkan hukuman.
Jika saja, aku tak meminta Kak Rey untuk mengajariku. Pasti, ini semua tidak akan terjadi.
Aku segera mencoba membaca puisi yang ada didalam buku sastra. Namun, seperti ada yang ganjil. Entah, apa itu. Hal itu serasa hilang, di hatiku.
"Uh, bagaimana mungkin kau bisa membaca puisi tanpa menghayatinya? Apakah kau yakin mengikutinya?" Tanya seseorang yang masuk dengan menghela nafas.
#BERSAMBUNG#

Tidak ada komentar:
Posting Komentar