"Assalamualaikum.." Kataku saat melihat Bunda di teras rumah sambil minum susu hangat buatan Bi Surti.
"Walaikumsalam.. Kak, kamu itu darimana aja?" Tanya Bundaku yang melihatku menuntun sepeda untuk memasuki rumah baru yang tua meskipun kata Ayah, ini rumah sangat antik dan menyimpan nilai sejarah.
"Tadi main bareng Zeen, Bun!" Jawabku, aku tahu mungkin Bunda akan marah lagi karena tahu aku main bareng Zeen. Yap, Zeen adalah sahabat baruku disini. Zeen berusia 2 tahun lebih muda dariku dan untungnya secara kebetulan kami satu sekolah.
"Sudah berapa kali Bunda bilang sayang! Bukannya Bunda melarang kamu buat bergaul. Tapi, Zeen itu selalu menjadi buah bibir disini karena sikapnya yang nakal. Bunda takut kalau anak sulung Bunda jadi ikut nakal seperti Zeen!" Nasihat Bunda. Akupun memarkir sepeda dan diam saja, tidak berani untuk membantah. Akupun mencium tangan Bunda. Meskipun Bunda marah, tetapi dia tetap tersenyum dan bersifat lembut seperti biasa. Lembut tapi tegas, itulah motto Bundaku.
"Maaf Bun, tadi itu aku cuma bantuin Zeen buat menyelesaikan tugas prakaryanya. Zeen udah berubah kok Bun. Dia sudah nggak cerewet lagi dan sebelum pergi ke rumah Zeen, aku udah minta ijin ke Ayah dan diperbolehkan!" Kataku. Seandainya aku tidak memakai kata "Maaf" mungkin aku sudah dimarahi oleh Bunda. Bunda yang mendengar penjelasanku hanya tersenyum dan menyuruhku masuk rumah, Bunda tetap ada di teras rumah untuk menunggu Ayah.
"Kak Iko udah pulang ya! Belle ama Ocha udah nunggu loh.. Iyakan Belle?" Sambut adikku, Ocha sambil memeluk boneka peri berukuran besar yang diberi nama Belle.
"Ocha, mana Bi Surti?" Tanyaku.
"Di istana makanan Kak!" Jawab Ocha. Yap, Ocha selalu menganggap dunia nyata ini dengan dunia imajinasi karena Ocha masih berusia 4 tahun, wajar saja kalau Ocha selalu menyebut dapur dengan nama istana makanan, kamar tidur dengan nama kamar putri/pangeran atau juga kamar ratu dan raja.
"Makasih ya Putri Ocha!" Kataku. Ochapun tersenyum mendengar itu. Aku langsung pergi ke kamar tidurku yang berada di lantai 2 dan juga menaruh tas kecilku disana. Aku juga langsung ganti baju dan pergi ke dapur yang ada di bawah.
Dapur dan ruang makan bisa dibilang menjadi 1 ruangan hanya dibatasi tirai sebagai pembatas jadi Bik Surti tidak perlu repot mengantarkan makanan atau minuman dan hanya perlu menggeser tirai.
"Tuan muda sudah pulang, tadi dicari nyonya!" Kata Bi Surti saat melihatku.
"Iya Bi, makasih. Bi, duriannya masih ada?" Tanyaku.
"Iya, masih ada banyak tuan. Mau saya iriskan?" Tanya Bi Surti.
"Iya Bi.. Sama teh hangat ya!" Kataku. Akupun mengamati lukisan-lukisan yang ada di tembok ruang makan. Kata pemilik rumah sebelumnya, ini warisan turun-temurun dari pemilik rumah pertama.
Aku selalu mengagumi lukisan gadis cantik yang kira-kira seumuranku. Gadis dalam lukisan itu memakai baju dress ala eropa, namun aku tidak merasa gadis berkulit putih itu tersenyum. Meskipun gadis itu tersenyum, namun senyumnya seperti dipaksakan. Aku menyukai lukisan itu karena gadis itu, gadis yang terduduk di kursi, putih, rambutnya terurai hitam, matanya biru.
"Ini tuan, durian dan teh hangatnya!" Kata Bi Surti sambil menghidangkan di atas meja.
"Makasih Bi! Bibi, tau tidak tentang gadis ini?" Tanyaku karena aku mengerti bahwa Bi Surti pernah tinggal disekitar sini waktu masih kecil.
"Maaf, saya tidak tau! Tapi, kalau memang tuan muda ingin mencari tahu tentang gadis itu. Mungkin buku harian jawabannya!" Jelas Bi Surti.
"Buku harian?" Tanyaku sesudah meneguk teh hangatku.
"Iya, tadi pagi. Mbak Asra menemukan buku harian ini di laci almari kamar tuan. Dan saya disuruh untuk memberikan ini ke tuan muda!" Jelas Bi Surti sambil memberikan buku harian kuno dengan sampul gadis yang sama seperti di lukisan. Di sampul buku tersebut, ada nama yang sepertinya sudah lama ditulis karena memakai tinta dan juga agak berdebu.
"Makasih Bi!" Kataku sambil melihat buku harian yang sepertinya sudah dibersihkan oleh Bi Asra.
Bi Surti langsung masuk dapur seusai pamit kepadaku.
"Jessica Liena Queretta" Bacaku dalam hati. Sungguh nama yang indah. Aku mengurungkan niatku untuk membaca.
"Ah, mau tidur aja bacanya dan 1 halaman harus dibaca 1 hari. Agar nggak cepat tamat!" Gunamku dalam hati.
Bersambung ya..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar