Kasus Hilangnya Uang

  "Rika, Tasya! kalian dipanggil Bu Kepala Sekolah!" Kata Erna memberi tahu.
  "Ayo Tas, paastii ada kasus baru!" Ajak Rika.
  "Iya, penasaran yah! Kasus apa yang akan kita terima! Terima kasih" Kata Tasya menutup Buku Logika miliknya.
  "Sama-sama! Semoga berhasil ya!" Kata Erna.
 Rika dan Tasya pergi ke ruang guru untuk bertemu Ibu Kepala Sekolah. Rika dan Tasya adalah detektif wanita di sekolah asrama putri.
  "Assalamualaikum.. Bu ini Rika dan Tasya" Kata Rika saat di depan pintu ruang guru.
  "Walaikumsalam.. Silahkan masuk" Sambut Bu Dea, Ibu Kepala Sekolah.
 Mereka'pun masuk ke ruang guru dan duduk di sofa biru.
  "Terima kasih ya, untuk waktunya!" Kata Bu Dea dengan raut muka cemas.
  "Sama-sama Bu! Ada masalah apa Bu?" Tanya Tasya.
  "Mungkin masalah ini sedikit rumit, tapi semoga kalian bisa memecahkannya!" Jawab Bu Dea.
  "Insya Allah bisa bu!" Kata Rika meyakinkan.
  "Begini masalahnnya, tadi pagi saya membawa amplop berisi uang. Rencananya besok, uang itu saya pakai untuk membeli buku-buku yang belum lengkap di perpustakaan. Uang itu saya ambil sebelum ke sekolah di bank" Jelas Bu Dea. Bu Dea'pun menyuruh Bu Jevan untuk menghidangkan minuman.
  "Maaf Bu! Perkiraan jam berapa Ibu mengambil uang?" Tanya Tasya sambil mencatat kronologi kejadian di buku memo'nya.
  "Sekitar jam 06.00!" Jawab Bu Dea.
  "Setelah itu Ibu menaruh amplop itu dimana?" Tanya Rika penasaran.
  "Saya menaruhnya di tas saya yang berwarna putih seperti biasanya. Setelah itu saya berangkat ke sekolah memakai mobil pribadi saya" Jelas Bu Dea.
  "Saat di mobil, siapa yang menemani anda?" Tanya Rika.
  "Hanya Pak Sofyan, sopir pribadi saya. Menurutku tidak mungkin Pak Sofyan karena ia hanya mengendarai mobil dan berbincang-bincang tentang keistimewaan Indonesia" Kata Bu Dea.
  "Sebelum amplop itu hilang, siapa orang yang Ibu jumpai?" Tanya Tasya.
  "Pak Sofyan, Bu Lidya, Bu Sisil, Pak Irvan (Kepala Sekolah Sekolah Asrama Pria) dan mmm.." Kata Bu Dea berusaha mengingat.
  "Baiklah Bu, mumpung masih sore saya akan pergi bertemu dengan Tasya ke rumah Pak Irvan. Karena saya kenal dengan Pak Irvan! Saya mohon pamit dulu ya Bu!" Kata Rika.
  "Baiklah hati-hati! Ingat ya meskipun hari ini Sabtu dan dibebaskan keluar area asrama,  kalian harus pulang sebelum jam17.00. Jika kalian telat sedetik'pun maka kalian tetap dihukum. Kalau saya yang jadi Guru Kedisiplinan sih, tidak apa-apa. Berhubung Bu Leni, jadi kalian tak punya alasan melanggarnya! Mengerti? Semoga sukses ya!" Jelas Bu Dea.
  "Baik bu" Kata mereka berdua. Rika dan Tasya pergi ke Bu Leni untuk minta ijin. Setelah itu, mereka pergi ke rumah Pak Irvan yang ada di belakang asrama perempuan.
   24 menit kemudian..
 "Om.. Om Irvan!!" Ketuk Rika.
 "Iya.. Siapa ya?" Tanya Pak Irvan di halaman rumahnya.
 "Rika & Tasya" Jawab Tasya. Pak Irvan'pun membuka pagar rumahnya dan mempersilahkan mereka masuk. Pak Irvan yang sudah kenal dengan Rika karena Rika adalah anak dari salah satu teman Pak Irvan sewaktu belajar di UGM (Universitas Gajah Mada).
 "Selamat sore Rika! Selamat sore Tasya! Ada perlu apa?" Tanya Pak Irvan sekalian menghidangkan Jus Jambu.
 "Begini Om! Om pasti kenal dengan Bu Dea bukan?" Tanya Rika sambil membenarkan posisi duduknya.
  "Ya, ada apa dengan Bu Dea?" Tanya Pak Irvan penasaran.
  "Tadi, Bu Dea meminta kami untuk mencari uangnya! Saya juga dengar dari Bu Dea bahwa anda bertemu dengannya tadi bukan? Saya mohon kerjasamanya untuk kasus ini" Jelas Tasya dengan ciri khasnya cool.
  "Iya benar tadi saya bertemu, turut berduka ya. Semoga uangnya cepat ditemukan ya! Ya, pasti saya akan bantu" Kata Pak Irvan percaya diri.
  "Ada gerangan apa Om bertemu dengan Ibu Dea?" Tanya Rika.
  "Tadi saya berbincang-bincang dengan Bu Dea tentang masalah Persami bersama Asrama Perempuan & Laki-laki" Jelas Pak Irvan.
   "Om tadi lihat tas putih milik Bu Dea?" Tanya Tasya dengan mencatat di buku memo.
   "Ya, saya lihat tasnya di meja ruang tamu" Jawab Pak Irvan.
   "Bagaimana posisi tas'nya?" Tanya Rika.
   "Saya lihat.. mmmmmm.. oh iya, amplopnya terlihat sekali di atas tas putih. Amplopnya terlihat hampir jatuh" Jelas Pak Irvan.
  "Terima kasih infonya ya Om!" Kata Rika.
  "Kok cepat banget? Habisin dulu Jusnya" Kata Pak Irvan.
 Rika & Tasya'pun menghabiskan Jus Jambu dan pamit pulang.
         Di Asrama Perempuan......
  "Ting tong..... Anak-anak diharap berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Sekian dan terima kasih.... Ting tong" Suara bel bertanda akan makan malam.
  "Yuk Tasya! Perutku menjerit nih!" Tawa Rika. Mereka'pun masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman.
   "Disana yuk! Enak hampir dekat dengan AC dan bisa lihat TV!" Ajak Tasya.
 Mereka'pun menikmati makanan yang mereka pesan. Rika memesan nasi goreng dan udang tepung dengan air putih dan ice cream sedangkan Tasya hanya memesan nasi putih dan sop sehat ditambah air putih. Mereka makan dengan lahap.
         Kesokan harinya, Pukul 15.56 di ruang guru.
  "Bu Dea, kami ingin memeriksa meja ruang guru yang ada di dekat sofa tamu. Boleh?" Tanya Rika.
  "Ya, maaf ya saya sedang memeriksa berkas-berkas ini!" Jawab Bu Dea sambil duduk di sofa.
 Rika dan Tasya mencari petunjuk kasus.
  "Ketemu.. Ini sapu tangan siapa ya?" Tanya Tasya saat menemukan sapu tangan berwarna merah mudah.
  "Lihat, kalau sudah berwarna merah mudah kemungkinan besar pemiliknya wanita!" Jawab Rika.
 Tasya membeberkan sapu tangan. Terlihat sulaman bunga.
  "Lihat, ini milik Nur!" Kata Rika saat melihat bagian bawah ada sulaman nama.
  "Nur yang mana? Nurinda kelas 8A? Nurdera kelas 7B? atau Nur Erdya kelas 8B ?" Tanya Tasya.
  "Hah, Nur? Kebetulan saya membaca berkas nama & keterangan keluarga. Kalian cari yang ada nama Nur. Lalu catat ya!" Perintah Bu Dea memberikan berkas-berkas dokumen.
 Rika dan Tasya'pun mencari. Rika mencari, Tasya mencatat data-data.
  "Oh iya, seingat saya ada biodata murid-murid dan kebetulan ada favorit warna. Coba kalau kalian sudah yang itu, cari yang ini ya!" Usul Bu Dea sambil mengambil tumpukan dokumen.
  "Bu, saya punya beberapa kemungkinan tersangka" Kata Tasya saat membaca buku memo.
  "Siapa saja?" Tanya Bu Dea.
  "Bukankah kemarin mati lampu alias padam ya Bu? Kalau menurutku sebelum padam, pelakunya sudah ada di ruang guru. Apalagi CCTVnya mati" Kata Rika.
  "Iya.. Betul juga" Jawab Bu Dea.
  "Menurutku. Aku mencurigai 2 anak. Yaitu Nureva dan Hanuria. Kebetulan panggilan Hanuria adalah Nur ditambah dengan warna favorit merah mudah. Mereka juga punya bakat menyulam! Jadi 2 orang ini yang ku curigai" Kata Tasya.
  "Sudah terlihat sekali.. Pelakunya tak mungkin Nureva karena mengingat status perkerjaan ayahnya sebagai manajer perusahaan dan ayah Hanuria hanya berkerja sebagai tukang bakso keliling" Kata Rika yang menarik kesimpulan begitu.
  "Bisa jadi, tapi kalau bukan mereka atau memang sapu tangan Nur yang jatuh? Oh iya, kemarin saya bertemu dengan Bu Eva, guru kesenian di sini Sedang berbincang dengan Nur. Saat itu, saya ingin mengambil amplop. Tapi saat terjadi padam, saya dan Bu Eva keluar untuk mengecek tegangan listrik. Coba tanya Bu Eva!" Usul Bu Dea.
  "Apa ya, panggil-panggil saya?" Gurau Bu Eva yang bersuara di meja komputer.
  "Bu Eva. Kemarin Ibu memanggil Hanuria ke ruang guru?" Tanya Tasya. Tasya dan Rika langsung pergi
ke meja komputer.
  "Iya, waktu itu saya memanggil Nur untuk mempersiapkan desain pakaian untuk Persami besok" Jelas Bu Eva.
  "Di meja ruang tamu?" Tanya Rika.
  "Tidak! Saya berbincang-bincang dengannya di meja komputer" Jawab Bu Eva tenang.
  "Tapi... kulihat raut muka Nur sedih. Setelah itu, ada padam. Untung file untuk surat izin orang tua sudah di save. Saya dan Bu Dea pergi keluar dari ruang guru!" Sambung Bu Eva.
  "Bagaimana dengan Hanuria?" Tanya Tasya.
  "Nur mengikuti aku dari belakang. Ya sudah, aku santai saja dan keluar" Jawab Bu Eva.
  "Saya pamit dulu ya Bu. Terima kasih infonya" Pamit Rika.
  "Kalian mau kemana?" Tanya Bu Dea.
  "Ke kamar Hanuria" Jawab Tasya.
  "Jangan nyinggung dia ya!" Pesan Bu Dea.
  "Siap Bu!" Jawab Rika.
 Mereka berdua pergi ke kamar tidur Hanuria.
  "Nur... Nur..." Ketuk Rika.
  "Iya.. sebentar" Jawab Nur.
 Pintu terbuka, terlihat gadis manis dengan baju putih ditambah rok hitam. Sungguh simpel.
  "Ada apa Kak?" Tanya Nur yang sudah biasa memanggil semua anak dengan kata Kakak.
  "Boleh bicara bentar" Jawab Rika.
  "Boleh, silahkan masuk" Kata Nur dengan tersenyum namun dalam hatinya cemas.
  "Kak, aku ambilkan minum ya" Tawar Nur.
 Nur pergi mengambil 2 gelas air putih.
  "Prang...",
  "Nur, kamu nggak papa?" Tanya Rika khawatir melihat tangan kiri Nur berdarah.
  "Iya Kak! Aku.. nggak.. papa" Jawab Nur dengan suara bergetar. Nur langsung menangis.
  "Ada apa Nur?" Tanya Tasya khawatir.
  "Kak, aku nggak bisa bohong terus.." Kata Nur sambil menangis. Nur mengepel lantainya.
  "Ada apa?" Tanya Rika lembut.
  "Kak, tolong kembalikan amplop ini kepada Bu Dea. Tolong bilang kalau aku minta maaf dan aku terima hukuman apapun untuk siswi nakal ini. Yang berani mencuri" Kata Nur sedih.
  "Maksudmu?" Tanya Tasya. Tasya membantu Nur membereskan serpihan gelas yang pecah.
  "Aku yang mengambil uang Bu Dea untuk melunasi uang Spp 3 bulan" Kata Nur.
  "Tapi, bukannya kamu dapat beasiswa sekolah disini dan biaya Spp'nya diringankan?" Tanya Rika.
  "Memang, dan uang dagangan Bapak belum cukup. Tapi, untungnya kemarin ada yang memberiku uang untuk membayar biaya Spp" Jawab Nur.
  "Tapi, kemarin juga saat sekolah. Sudah kulunasi biaya Spp dengan hasil curian. Tetap saja aku merasa bersalah. Jadi, aku ganti uang yang kucuri dengan uang yang ku dapat dari redaksi buku" Kata Nur bergetar.
  "Apa karena uang untuk karya bukumu yang diterbitkan?" Tanya Tasya.
  "Iya, tolong ya sampaikan pesanku kepada Bu Dea dan amplop ini" Kata Nur.
  "Nur, buku yang judulnya 'Mengupas Kasus dengan Logika' Itu?" Tanya Rika.
  "Iya" Jawab Nur singkat.
  "Udah ya. Kami pamit dulu ya" Kata Tasya.
 Nur mengangguk. Mereka berdua pamit pergi.
  "Bu Dea. Ini amplopnya!" Kata Rika saat bertemu Bu Dea di taman.
  "Makasih ya!" Kata Bu Dea sambil menerima amplop. Bu Dea langsung menghitung uang untuk membeli buku.
  "Bu, Hanuria bilang maaf dan akan menerima hukuman apapun yang akan diterimanya" Jelas Tasya.
  "Wow, Nur memang anak yang jujur. Uangnya juga pas 300.000" Kata Bu Dea.
  "Apa hukuman yang didapat Nur?" Tanya Rika.
  "Aku akan menyuruh Nur menggambar desain pakaian seragam sekolah baru dan menjadi penulis majalah sekolah kita!" Kata Bu Dea mantap.
  "Hukuman yang bagus, aku akan menyampaikannya pada Nur" Kata Tasya.
  "Ada hikmah yang didapatkan Nur ya!" Tawa Rika.
  "Apa?" Tanya Bu Dea.
  "Ia bisa menggambar desain seragam yang akan dikenakan dan bisa menulis majalah sekolah" Tawa Rika.
  "Bisa aja Rik, oh iya. Ini hadiahnya buat kalian" Kata Bu Dea memberikan 2 buku tebal berjudul 'Misteri Unik di Dunia'.
  "Makasih Bu! Sudah lama pingin beli tapi uangnya nggak cukup" Kata Rika.
  "Iya, makasih ya Bu!" Kata Tasya.
 Mereka berdua tersenyum dan Bu Dea juga tersenyum karena bisa beli buku untuk pelengkap perpustakaan. Tanpa mereka sadari ada gadis polos yang tersenyum sambil bersembunyi di rimbunan bunga-bunga taman. Kalian pasti tau siapa bukan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar