Puisi Untukmu...


Hujan rintik hari ini mengingatkanku pada seseorang. Ya aku mengingat sosok yang penuh kasih sayang namun ku membencinya. Namaku Tecnaliova biasa dipanggil Tecna. Aku pernah mempunyai sahabat yang baik namun ia pergi. Ia meninggalkanku untuk selamanya karena keegoisanku sendiri. Daripada aku bercerita tetapi kalian tidak tahu. Lebih baik aku ceritakan masa laluku.
Flashback..
   Keseharianku dihiasi oleh sahabatku, Freda dan temanku yang selalu perhatian kepadaku, Rinda.
Mereka berdua selalu menemani aku setiap hari.
 Rinda, itu adalah anak yang kubenci karena ia selalu membuatku iri dan sakit hati karena ia adalah sainganku. Tanpa sengaja aku mempunyai bakat yang sama dengannya.
Bakat itu adalah bakat kesastraan. Namun ia tak mengira bahwa aku tak membencinya. Aku egoiskan? Rinda selalu perhatian kepadaku namun apa? Aku hanya membalas dengan rasa benci.
Tidak ada yang tahu tentang hal ini. Yang tahu adalah Allah dan aku. Namun aku selalu melampiaskan di buku hariankun. Apakah aku membenci Rinda karena ia lebih pintar dariku di bidang sastra? Akupun tak tahu apa yang menyebabkan aku jadi seegois ini.
  Semua rahasia terbongkar saat buku harianku jatuh di tangan Freda. Fredapun marah saat membaca buku itu. Ia sangat marah karena aku membenci Rinda. Aku tak tahu apa yang membuat semua orang termasuk Freda menyayangi Rinda. Apa karena ia pintar dan baik. Aku tak tahu..
 Telah seminggu aku dikucilkan oleh Freda. Seminggu pula aku menyelidiki Rinda.
Ternyata ia adalah anak yatim piatu yang masuk ke sekolah ini karena beasiswa yang dimilikinya.
Aku tahu hal itu saat aku melihat Rinda dan Freda keluar dari sebuah panti asuhan.
 Untungnya pengurus panti itu adalah Bibi Wida. Akupun bertanya padanya. Aku tak tahu harus bagaimana pada saat itu.
Keesokannya aku berniat minta maaf kepada Freda dan Rinda. Namun Rinda tidak masuk. Aku menunggu ia masuk sampai 3 hari. Saat hari keempat aku menunggunya. Sungguh aku tak percaya.
Rinda, temanku telah tidur untuk selama-lamanya. Akupun menangis sejadi-jadinya saat mendengar hal itu. Sungguh aku tak percaya. Bersamaan dengan keluarnya air mataku, hujan pun turun seperti alam pun tak mau Rinda pergi. Akupun meminta maaf kepada Freda yang masih diam dengan menangis. Freda langsung menangis sejadi-jadinya saat aku ada di sampingnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku.
 Sepulang sekolah, aku dan Freda langsung mengunjungi makam Rinda seperti yang dikabarkan Bu Endang, wali kelas kami. Aku dan Freda langsung mencari makamnya dan menaburkan bunga. Aku dan Freda juga membaca doa untuk Rinda agar ia di terima di sisi Allah SWT.

Itulah ceritanya. Sekarang adalah 100 harinya Rinda. Hujan pun turun membuat hatiku menjadi sakit kehilangan Rinda. Rinda, maaf dan terima kasih untukmu.
Puisi ini untukmu..

Sahabatku

Senyummu bagai mentari..
Membuat semua orang merasa damai..
Kulitmu yang putih bersih..
Menambah keindahanmu..
Hatimu yang baik dan tulus..
Seperti jernihnya air..
Tidak ada kata lain lagi,
Selain maaf dan terima kasih..
Selamat jalan kasih..
                                                  Karya ; Melati ARF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar